KUNINGAN – FAKTALIPUTAN6.COM
Proyek penataan Tugu Bola Dunia di Jalan Ir. Soekarno-Hatta, Kabupaten Kuningan, menuai kritik. Pernyataan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Kuningan bahwa proyek bernilai ratusan juta rupiah itu telah rampung 100% justru memantik reaksi keras dari publik dan kalangan pegiat antikorupsi.
Forum Masyarakat Sipil (FORMASI) Kabupaten Kuningan bersama pegiat transparansi anggaran mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk mengaudit proyek tersebut secara menyeluruh. Audit dinilai perlu untuk menelusuri potensi kerugian negara serta kemungkinan ketidakberesan administrasi.
Ketua FORMASI Kuningan, Manap Suharnap, Rabu (7/10), menyampaikan sejumlah poin kritis, yakni indikasi pemborosan anggaran, dalih birokrasi DPUTR, dan lemahnya sinkronisasi kebijakan.
“Alokasi dana ratusan juta rupiah untuk proyek penataan yang berujung pada kebingungan publik dinilai sebagai bentuk penghamburan uang rakyat yang tidak berorientasi pada skala prioritas,” ujarnya.
Menurutnya, alasan DPUTR bahwa pekerjaan fisik telah tuntas sesuai kontrak, sementara rencana ikon baru berupa Patung Kuda dialihkan ke APBD Perubahan, menunjukkan pola perencanaan “tambal sulam” yang patut dicurigai dan tidak akuntabel.
“Kebijakan bongkar-pasang konsep estetika kota ini mencerminkan buruknya perencanaan tata ruang. Hal ini memunculkan dugaan adanya proyek akal-akalan untuk menyerap anggaran tanpa asas kemanfaatan yang jelas,” paparnya.
Manap menegaskan, status rampung 100% secara administratif tidak serta-merta menghapus tanggung jawab moral dan hukum atas efektivitas penggunaan anggaran.
“Kami menuntut audit investigatif segera dilakukan untuk membuka seterang-terangnya aliran dana ratusan juta rupiah tersebut kepada publik,” tegasnya.
FORMASI dan para pegiat transparansi anggaran mendesak agar prinsip transparansi dan akuntabilitas benar-benar ditegakkan di Kabupaten Kuningan. Mereka juga mengingatkan pemerintah daerah agar tidak sewenang-wenang menggunakan uang rakyat untuk proyek estetika yang minim urgensi.
(Red)
